Potensi Bahaya Saat Memindai Kode QR

Kode QR

TUDEPOIN.COM – Pengguna tidak boleh memindai kode QR yang tidak diketahui asalnya untuk menghindari bocornya informasi pribadi atau menjadi korban kode berbahaya.

QR Code adalah singkatan dari Quick Response Code (singkatnya: Kode respon cepat) juga dikenal sebagai Matrix-barcode atau Two-dimensional (2D) Barcode. Ini adalah bentuk informasi yang dikodekan untuk ditampilkan sehingga dapat dibaca oleh mesin.

Kode QR pertama kali muncul pada tahun 1994, dibuat oleh Denso Wave anak perusahaan Toyota. Kode QR terdiri dari titik-titik hitam dan kotak pada latar belakang putih, yang dapat berisi informasi seperti URL, waktu, lokasi acara, deskripsi, pengenalan produk tertentu.

Baca Juga:  5 ponsel baru teratas yang paling ditunggu

Kode QR memungkinkan pemindaian dan pembacaan kode yang lebih cepat dengan perangkat seperti pembaca kode batang atau ponsel dengan kamera yang memungkinkan pemindaian kode, sangat nyaman bagi pengguna.

Namun, teknologi juga memiliki banyak potensi risiko keamanan. Seperti yang direkomendasikan oleh para ahli, pengguna tidak boleh memindai kode yang tidak diketahui asalnya untuk menghindari bocornya informasi atau menjadi korban kode berbahaya.

Potensi Bahaya Saat Memindai Kode QR

Menurut Make Use Of, sifat kode QR membuat teknologi ini rentan dieksploitasi untuk tujuan kejahatan. Memindai kode dari sumber yang tidak tepercaya dapat membuat pengguna terkena ancaman keamanan.

Baca Juga:  Cara Mengubah Aplikasi Default di Windows 11

Orang jahat dapat dengan mudah membuat kode QR bahaya, menambahkan ikon toko aplikasi, dan menempelkannya di tempat ramai. Dengan memindai kode-kode ini, pengguna dapat secara tidak sengaja mengaktifkan fitur otomatis di ponsel mereka, seperti mengunduh aplikasi secara aktif dari situs web palsu. Ini memudahkan malware untuk masuk ke mesin tanpa sepengetahuan pengguna.

Selain itu, kode QR palsu juga dapat menyebabkan pengguna kehilangan informasi pribadi dan properti. Kode-kode ini dapat ditautkan ke situs web bank dan situs e-commerce palsu dengan antarmuka yang mirip dengan situs web asli, menyebabkan pengguna mengisi akun dan kata sandi mereka tanpa peringatan.